Monday, April 30, 2007

akhirnya

Kami pindah!

semua cerita akan dilanjutkan disini.

sampai jumpa! Wink

 

 

 

Posted by ibunya hafizhaqqi at 15:40:19 | Permanent Link | Comments (0) |

Thursday, April 26, 2007

teman

+ kok trans-tujuh bagi-bagi tivi juga bu? kayak trans-tivi...
~ iya, kan trans-tujuh temannya trans-tivi, jadi acaranya bisa sama
+ oo...kalau global-tivi temannya siapa? (global-tivi favoritnya hafizh)
~ global temannya rcti, sama tpi juga
+ wah, hebat bertiga, kalau sctv bu?
~ sctv sendiri
+ hmm... (diam lama)
+ kasihan sctv nggak punya teman (ngomong sendiri, pelaan banget)

~ ??! 

Posted by ibunya hafizhaqqi at 11:49:59 | Permanent Link | Comments (3) |

Monday, April 23, 2007

kebiasaan

Sekarang ini dek Haqqi hobinya adalah dititah. Paling suka dititah di luar rumah, kalau di dalam rumah maunya belok aja ke kamar mandi. Jadi pintu kamar mandi harus selalu rapat tertutup, kalau terbuka sedikit pasti dek Haqqi maksa mau main air.

Kadang yang nitah udah pegel banget, yang dititah masih semangat keliling-keliling. Trus kalau diajak istirahat, nangis deh. Kalo udah gitu yang nitah biasanya bilang, ayo jalan sendiri dong ah... :D

Satu lagi kebiasaan dek Haqqi, tiap pagi minta diajak keluar rumah. Nyari si mpus yang biasanya berkumpul di sekitar gerobaknya bang Boim, tukang sayur komplek yang mangkal nggak jauh dari rumah. Kalau ada si mpus, dek Haqqi girang banget deh, langsung aja ngajak si mpus ngobrol, kan si mpus-nya jadi bingung. :)

ayo dong bukain pintunya, si mpus pasti udah nungguin aku tuh...

aduuh... gak ada yang mau nolongin aku niih,
mentang2 aku belum mandi... huhu..

 

Posted by ibunya hafizhaqqi at 15:31:42 | Permanent Link | Comments (7) |

Monday, April 16, 2007

ilmu baru

Campak / Tampek/ Measles
~ gejala infeksi virus umumnya: demam, lemas, nafsu makan turun, dll.
~ disertai batuk + mata berair
~ rashes/bercak2 merah keluar pada saat demam tinggi

Roseola (sering disebut tampek juga oleh orang indonesia)
~ gejala infeksi virus umumnya: demam, lemas, nafsu makan turun, dll.
~ tidak disertai batuk
~ rashes/bercak2 merah keluar setelah suhu badan kembali normal

Keduanya adalah infeksi virus yang nggak perlu antibiotika. Ilmu baru ini didapat dari dek Haqqi yang wikend kemarin kena roseola.
Makasih juga buat sehatgroup yang selalu bisa membuat ibu nggak gampang panik :)
Alhamdulillah sekarang bercak merah dibadan dek Haqqi sudah hilang semuanya, horee!!.

Posted by ibunya hafizhaqqi at 11:54:14 | Permanent Link | Comments (7) |

Friday, April 13, 2007

sesak hati

dalam bis kota pengap merayap
berdiri dengan gitar kecil digenggaman
gadis belia yang kumuh
memeluk bocah mungil tak kalah lusuh

lagu bandung lautan api
dalam versi tak kukenali
bernyanyi sendiri
dengan suara percaya diri

tapi bocah mungil itu terlelap nyenyak
sungguh-sungguh nyenyak
tak peduli kebisingan diruangnya
mungkin mimpinya lebih indah
daripada suara sengau didekatnya

hai gadis muda,
siapa dia dalam dekapan?
adikmu kah?
kenapa kau ajak dia mengukur jalanan?

tanya yang tak mampu terlontar

lihat wajah damainya
harusnya dia lelap dibuaian hangat
bukan dibawah mentari menyengat
dalam kurungan debu yang menyergap
protes hati memendam sesak

dan aku akhirnya menangis
benar-benar menangis
tanpa bisa ditepis

 

Blok M, 12 april 2007
rindu bocah mungil saya dirumah :(

Posted by ibunya hafizhaqqi at 11:09:59 | Permanent Link | Comments (1) |

Wednesday, April 11, 2007

jadi boss

Ritual saya dan Hafizh menjelang tidur -sebelum berdoa dan memejamkan mata- adalah ngobrol. Apa saja bisa jadi bahan obrolan. Seputar kegiatan kami siang tadi sampai acara televisi yang tidak dia tonton bersama saya (atau yang ditonton bersama saya :D). Biasanya disaat-saat seperti ini saya menyisipkan pesan-pesan moral yang pendek dan tersamar, soalnya kalau kepanjangan dan terang-terangan Hafizh suka buru-buru ngajak berdoa :(

Berikut ini adalah percakapan 3 malam yang lalu.

+ nanti selesai sekolah aku gak mau jadi dokter ah Bu
~ trus jadi apa dong?
+ mau jadi boss
~ boleh aja, jadi boss apa Mas?
+ misalnya jadi boss di kantor ibu, boleh kan?
~ loh? kalau Mas udah jadi boss, berarti ibu sudah tua dong?
+ kan misalnya bu.. misalnyaa...
~ iya iya, oke deh boss!
+ nanti kalau ibu datang terlambat, aku nggak marah loh...
~ wah enak banget boss..
+ trus, kalau ibu mau pulang siang-siang juga boleh
~ boleh datang telat, boleh pulang cepat juga? nggak marah boss?
+ nggak dong...nanti gajinya aku tambahin deh
~ assiknyaa...
+ trus hari senin slasa rabu kamis jumat, ibu boleh libur.
~ haah?
+
enak kan bu? eh, tapi cuma ibu loh, teman2 ibu sih gak boleh...
~ (ngangguk-ngangguk)

Hmmh... malam itu tampaknya giliran saya yang disisipi pesan moral :D

 

Posted by ibunya hafizhaqqi at 15:14:43 | Permanent Link | Comments (6) |

Monday, April 09, 2007

mandi yuuk...

Sekarang dek Haqqi sudah emoh mandi di bak, maunya di kamar mandi bareng mas Hafizh. Jadi sekarang begini deh kalau mandi, didudukin di potty kura-kuranya biar mantap duduknya, sambil main air deh... Assyik! :D

 

 

 

Posted by ibunya hafizhaqqi at 14:33:09 | Permanent Link | Comments (4) |

Wednesday, April 04, 2007

bubur ayam istimewa

Kalau sering lewat berjalan kaki di depan terminal blok-M, pasti kenal dengan ibu tukang bubur ayam yang mangkal di depan gerbang masuk Pasaraya sekaligus gerbang masuk blokM-mall. Gerobak bubur ayam ibu ini selalu ramai dikunjungi pembeli. Padahal ada beragam makanan yang dijual disitu, ada mie ayam, soto ayam, nasi goreng, dll. Tapi tetap saja gerobak bubur ayam ini yang paling padat pengunjungnya, sampai pedagang2 yang lain harus rela meminjamkan kursi panjangnya untuk diduduki para penggemar bubur ayam ini.

Semula saya tidak tertarik untuk mencoba bubur ayam disitu. Tapi gerombolan pembeli -yang nyaris menutupi si ibu penjual bubur dari pandangan itu- benar-benar menggoda saya untuk ikut berkerumun. Penasaran. Apa sih istimewanya bubur ayam ini?.

Saya mulai tertarik untuk sekedar mampir memperhatikan. Kemudian beberapakali saya harus membatalkan pesanan karena kelihatannya saya mendapat nomor urut yang masih jauh sekali untuk dilayani. Maklum, kalo lewat situ seringkali jarum jam sudah nyaris melewati jam masuk kantor saya.

Pertama kali mencicipi, hmm...lumayan, rasanya pas. Buburnya tidak encer meskipun tidak sekental bubur ayam mang Oyo di Dipati Ukur sana :p.

Tapi tetap rasanya tidak terlalu istimewa kalau mau jadi alasan membludaknya pengunjung, yang tidak pernah berhenti datang kecuali buburnya sudah benar-benar habis (kalau bubur belum habis walaupun bahan2 yang lain sudah habis tetap saja dibeli orang meskipun cuma makan dengan kecap dan bawang goreng, ck ck..).

Kelihatannya harga bubur ayam ini yang menarik pembeli. Sangat murah menurut saya. Tiga ribu rupiah saja seporsi. Pelanggannya rata-rata adalah gadis-gadis muda yang bekerja sebagai SPG dan pegawai di Pasaraya. Banyak sekali yang membeli hanya separuh porsi dan dihargai dua ribu rupiah saja. Saya heran sekali melihat porsi-separuh ini, hanya dikurangi buburnya sedikit saja sementara toppingnya tidak berubah semaraknya.

Selain cekatan, Ibu penjual bubur ini juga sangat sabar dan ramah melayani pembeli. Ada yang tidak pakai kecap, tidak pakai kacang, seledri yang banyak, sambal sedikit, semua dilayani dengan sabar. Kadang saya yang cuma melihat sering nggak sabar melihat pembeli yang 'cerewet' begitu padahal pelanggan sedang ramai-ramainya.

Belum lagi kalau ada yang minta tambah ini-itu, semua dilayani tanpa pelit sama sekali, minta kerupuk lagi dong bu, kerupuknya habis nih... lalu si ibu dengan riang akan mengisi kembali mangkuknya dengan kerupuk sampai penuh. Atau, minta sayap ayamnya boleh bu?... lalu dua buah sayap ayam diberikan dengan serta merta, tanpa tambahan charge.

Saat pelanggan sudah sepi (berarti pegawai pasaraya sudah mulai bekerja dan saya akan datang terlambat sekali ke kantor :p) kadang saya ngobrol-ngobrol sama si ibu tukang bubur. Saya tanya: Nggak rugi bu jual bubur murah begini?, apalagi boleh beli separuh tapi isinya juga hampir sama banyaknya dengan satu porsi?

Si ibu tersenyum simpul. Beberapa kali mampir disitu, dia mulai mengenali saya yang bukan SPG Pasaraya dan biasa memberi uang lebih karena merasa nggak enak selalu minta kacang yang banyak :D.

Lalu dia jawab kurang lebih begini: saya jualan nyari rezeki sambil nyari pahala juga neng. Untung secukupnya, tapi nolongin mbak-mbak pegawai itu biar bisa sarapan kenyang kan jadi pahala buat saya.

Saya tercengang. Ternyata memang guru itu ada dimana-mana ya. Guru saya kali ini adalah seorang ibu setengah baya penjual bubur ayam gerobakan, mengingatkan saya kembali bahwa uang tidak melulu menjadi alasan dan tidak selalu menjadi tujuan.
 
Sekarang tahulah saya apa istimewanya bubur ayam ini. :)
 
Posted by ibunya hafizhaqqi at 17:42:46 | Permanent Link | Comments (8) |

Thursday, March 29, 2007

bagai manusia?

Benar nggak sih tumbuh2an itu punya perasaan kayak manusia? Memang sih tumbuh2an kalau dirawat dengan penuh kasih sayang, dia akan tumbuh subur dan indah. Tapi maksud saya, apakah mereka juga mengerti kalau diajak bicara? punya perasaan sedih, marah atau bahagia?

Pernah baca di salah satu novelnya Sidney Sheldon (lupa yg mana), bahwa ada suatu penelitian tentang hal ini. Cara menelitinya dengan menempelkan suatu alat yg dihubungkan dengan pencatat grafik pada tubuh suatu tumbuhan. Ketika si tumbuhan diajak bicara dengan manis & dipuji-puji, si grafik bergerak perlahan dengan stabil. Selang beberapa waktu, diuji kembali dengan memaki-maki dan mencela si tumbuhan. Ajaib, grafik pun bereaksi keras, garis2 pencatatnya berubah dengan kontras selama proses pengujian berlangsung. Masalahnya, saya nggak tahu apakah om Sheldon ini berimajinasi atau memang pernah ada penelitian seperti itu.

Ibu kost saya dulu melarang keras anak2 kost-nya memetik buah belimbing yang masih muda di depan rumah, apalagi untuk dirujak. Alasannya? nanti buah-buah berikutnya jadi asam. Nggak masuk akal ya, gimana anak2 kost-nya yang bandel ini mau menurut. Ngrujak belimbing diam-diam itu enak loh :). Tapi bertahun-tahun kami disana, memang belum pernah buah belimbing itu jadi manis. Apa itu gara2 sering dipetik muda dan dirujak?

Pohon mangga di depan rumah ibu saya di Lampung adalah pohon berbuah lebat yang pernah saya kenal. Sejak pertama kali berbuah lebih dari 10 tahun yg lalu, selalu membuat banyak orang senang. Setiap musim mangga, semua tetangga dekat kebagian buahnya yang memang banyaak sekali. Kalau ada orang lewat yang gak tahan meminta buahnya dipersilahkan oleh ibu saya untuk memanjat sendiri pohonnya. Pernah satu dahannya roboh ke jalan raya karena terlalu banyak buah yang bergantungan.

Hampir setiap musim mangga juga ibu saya mendapat tawaran dari pedagang buah untuk menjual buah mangga secara borongan. Semua tawaran itu selalu ditolak. Sampai dua musim mangga yang lalu, Ibu saya mulai tergoda tawaran itu. Bukan karena uangnya, tapi karena Ibu saya mulai bingung cara mengunduh si buah mangga secara anak-anaknya sudah beredar kemana-mana, gak ada yang disuruh manjat :). Dengan syarat semua tetangga sudah kebagian mangga, maka dipetiklah semua buah mangga yang manis itu oleh si pedagang mangga.

Masalah selesai, tapi lihatlah pada musim mangga berikutnya (iya pas puasa tahun lalu). Pohon mangga tercinta mogok berbuah. Asli nggak satu pun buahnya nongol. Aneh rasanya tahun itu nggak dapet kiriman mangga dari Lampung. Apa pohon mangga itu tersinggung karena kemarin buahnya dijual?

Sekarang, ada sebatang pohon mangga juga di depan rumah saya. Bibitnya dibawa langsung dari pasuruan, titipan dari kakak saya yang waktu itu tinggal disana. Tiga tahun yang lalu waktu baru ditanam, tingginya hanya sekitar 75cm dengan daun yang hanya beberapa helai saja. Sekarang tingginya sudah kira-kira 3m, rindang daunnya dan sudah bisa dipanjat sama mas Hafizh.

Beberapa bulan yang lalu kakak perempuan saya -si pengirim bibit- datang ke Sawangan. Dia heran sekali melihat buah mangga saya ini, meskipun tumbuh sehat tapi belum juga berbuah. Padahal teman2 seangkatannya semua sudah berbuah lebat di usia 2 tahun. FYI, kakak saya ini menyebarkan bibit mangga ke semua saudara2nya di penjuru nusantara :p. Cuma di rumah saya si mangga ini belum berbuah. Padahal buahnya sangat manis, mangga madu asli pasuruan.

Dua hari di rumah saya, kakak saya itu bertindak. Sambil membuat luka di batang pohon mangga sampai getahnya keluar dia asyik ngobrol dengan si pohon, kira2 gini: Ayo dong kamu berbuah, jangan malas, tahun depan kalau saya kesini lagi kamu harus sudah berbuah yaa...
Aneh nggak sih? Saya dari balik jendela cuma cekikikan melihatnya. Kalau soal membuat luka di batang pohon saya sedikit mengerti karena memang pernah diajari oleh insinyur pertanian dari Lampung :p (hei.. saya punya 2 kakak & 2 ipar insinyur pertanian loh, pohon mangga ibu saya tadi sering disuntik juga kalau 'sakit'). Tapi teori bicara pada pohon yang baru saya tau dari om Sheldon, ternyata juga dipraktekkan disini.

Believe it or not, sebulan setelah kakak saya kembali ke negeri asalnya :p, pohon mangga saya berbunga pada satu dahannya. Kebetulan?
Sayang bunga2 itu rontok waktu hujan lebat mengguyur. Tapi sejak saat itu si pohon mangga terus berbunga walau hanya di satu dua pucuk dahan lalu rontok kembali saat hujan. Sekarang, musim mangga sudah jauh berlalu, tiba2 pohon mangga saya berbunga banyak sekali. Dihitung ada sepuluh pucuk dahan yang berbunga. Semoga kali ini sebagian bunga2 itu bisa bertahan di dahannya.

Diam-diam saya jadi sering bicara pada bunga di pucuk dahan terendah: ayo kamu kuat ya, jangan rontok lagi... Haha...

Posted by ibunya hafizhaqqi at 17:29:43 | Permanent Link | Comments (8) |

Tuesday, March 27, 2007

marah

Belum pernah cerita tentang mas Hafizh kalo lagi marah nih. Syereeem deh:). Ceritanya hari minggu malam kemarin kita ke Carefour untuk menukar lemari yang kita beli sehari sebelumnya (soalnya bahan rakitannya gak lengkap). Mas Hafizh memang semangat kalo diajak ke mall atau hypermart gitu, abis memang jarang diajak ke tempat2 itu sih.

Karena siangnya mas Hafizh gak berhenti bermain dan gak tidur siang, makanya gak lama mobil meluncur ke jalan raya, mas Hafizh juga sudah 'berlayar' dengan lelap. Sampai di parkiran Carefour mas Hafizh nggak juga bangun walaupun kita gedubrakan :). Jadi kita putuskan Ibu dan anak-anak tetap di mobil menunggu Ayah yang menukar barang.

Biasanya mas Hafizh kalo sudah tidur di mobil, sampai digendong ke tempat tidur juga nggak bangun. Tapi malam itu waktu kita sampai di gerbang komplek tiba-tiba mas Hafizh bangun sambil bingung, loh kita mau kemana Yah?.
Ayah-Ibu berpandangan, yaa alamat ngamuk deh nih anak :). Benar deh, mas Hafizh marah besar.

Marahnya mas Hafizh itu bukan berteriak-teriak kencang atau menangis keras. Tapi diam sambil wajahnya merah padam dan ditekuk berlapis tujuh (hiperbola). Kalau diajak bicara baru ngomong menyentak. Nggak bisa disentuh atau dibelai, pasti juga disentak. Pokoknya serem ih. Tapi lucunya, mas Hafizh itu gak bisa dicuekin, semua orang harus tau kalau dia lagi marah.

Karena dicuekin (Ibu menyusui adek dulu), mas Hafizh menghempaskan badannya ke sebelah Ibu. Menyentak- nyentakan kakinya ke tempat tidur, melemparkan guling, pokoknya membuat suara-suara mencari perhatian gitu deh. Selesai menyusui adek, baru Ibu tanya mas Hafizh;

+ mas kesel banget ya sama ayah ibu
~ (mengangguk, sambil pasang muka kenceng, menolak dipeluk)
+ maafin ayah ibu ya mas...
~ (menggeleng kuat)
+ gak mau maafin nih?
~ mas masih marah!

Akhirnya Ibu tinggal mas Hafizh di kamar, si Ayah mah anteng aja nonton tv (percuma ikut campur, mas Hafizh maunya diladenin Ibu :p). Ibu ke kamar mandi, beres-beres menjelang tidur. Eh ada yang menggedor kamar mandi. Pintu dibuka, mas Hafizh (dengan muka berlipat, kedua alis bertaut, mata melotot, bibir manyuuun) di depan pintu.

+ eh mas Hafizh...., mau sikat gigi mas? (tetap dg nada semanis madu)
~ (menggeleng kuat)
+ mau pipis?
~ (menggeleng kuat) mas marah banget!
+ oo... ya udah, tapi jangan lama-lama yaa..
~ (suara melunak) kalau mas marah Ibu tetap sayang kan?
+ iya dong cintakuuu... Ibu selalu sayang mas Hafizh.
~ (suara mengencang lagi) ya udah, mas mau marah sampai besok pagi! (langsung kabur ke kamar)

Hihi... mas Hafizh lucu deh, mau marah aja kok nanya dulu. Sebenarnya kalau kita juga berbalik marah ke dia, dia juga bakal berbalik merayu kita loh. Mas Hafizh itu paling takut kalau Ibu marah. Padahal Ibu kalau marah juga cuma diam aja, tapi ya itu, dia paling gak tahan dicuekin aja sama ibu. Tapi sekarang Ibu mau meladeni kemarahan mas Hafizh, soalnya kali ini dia memang layak untuk marah kan.

Ibu ikuti mas Hafizh ke kamar:

+ maas... jangan sampai besok dong marahnyaa..
~ biarin!
+ yaa...maafin ibu dong, ibu jadi sedih niih...
~ biarin!
+ kasih tau dong besok kalau begitu lagi ibu harus gimana?
~ ya mas dibangunin!
+ kalau banguninnya susah gimana?
~ ya digendong!
+ siapa yang gendong? Ayah bawa kardus lemari, Ibu gendong adek kan?
~ (diam, tapi sudah mau dibelai kepalanya)
+ Ibu & adek juga gak turun nungguin mas, karena Ibu sayang sama mas
~ (diam, tapi mukanya sudah melunak)
+ Ibu janji deh, besok2 ibu bakal paksa aja mas bangun, gitu?
~ (mengangguk pelan)
+ jadi ayah ibu dimaafin kan?
~ (mengangguk sambil peluk ibu)
+ makasih ya maas... (berpelukaaan)
~ aku sayang ibu, huhu... (loh malah nangis)

Begitulah, malam itu semua berakhir dengan damai. Gampang kan menghandle mas Hafizh kalau marah, cukup diakui aja kemarahannya, setulus hati minta maaf, pasti dia langsung lumer :).

Ah, anak Ibu...

 

Posted by ibunya hafizhaqqi at 13:02:07 | Permanent Link | Comments (7) |